Keunggulan teknik jaringan komputer adalah kemampuannya untuk men-share akses Internet dengan tetangga maupun sekitar-nya. Konsekuensi dari menshare akses Internet ke tetangga ini adalah biaya akses menjadi murah. Bayangkan akses Unlimited (tanpa batas) TelkomNet ADSL Speedy yang harganya sekitar Rp. 800ribu-an / bulan, jika kita bagi ke 20 tetangga, maka sebetulnya per rumah hanya membutuhkan biaya sekitar Rp. 100.000 / bulan untuk mengakses Internet 24 jam tentunya pada kecepatan 128K/1,2M yang di share oleh 20 tetangga.
Selama tetangga kita bukan sebuah WARNET, maka sebetulnya aktifitas penggunaan Internet yang di share tersebut tidak terlalu membebani jaringan. Pengalaman saya mengoperasi Internet 24 jam di rumah yang di share dengan tetangga tidaklah terlalu membebani jaringan Internet karena akses Internet paling hanya di gunakan untuk membaca e-mail terutama pada sore hari hingga malam pada saat orang pulang dari kerja.
WARNET akan merupakan momok di sebuah RT/RW-net karena trafic Internet sebuah WARNET sangat padat karena orang yang datang ke WARNET akan betul-betul memanfaatkan akses Internet yang dia beli di WARNET. Jadi tidak terlalu di sarankan untuk menshare akses Internet di sebuah RT/RW-net dengan sebuah WARNET karena traffic-nya akan habis di makan oleh WARNET.
Disini kita akan bahas secara singkat beberapa alternatif konfigurasi jaringan RT/RW-net yang sering digunakan.
Teknik share akses untuk RT/RW-net sebetulnya sama dengan teknik share akses yang digunakan di WARNET-WARNET. Bahkan jika kita perhatikan beberapa router ADSL, sebetulnya internal router ADSL tersebut telah di siapkan untuk melakukan share akses Internet untuk Small Office Home Office.
Kebanyakan dari kami di lapangan menggunakan Mikrotik sebagai sistem operasi router untuk share akses Internet di sebuah RT/RW-net karena disamping harga yang relatif murah juga banyak fasilitas tambahan yang dapat kita kembangkan dari sebuah mesin router tersebeut seperti VPN, VOIP, Tunneling, dll
Alternatif paling sederhana dan paling murah untuk menyambungkan rumah-rumah tetangga kita adalah menggunakan sambungan UTP LAN. Paling menguntungkan jika kita dapat bekerja sama dengan sebuah kompleks perumahan / real estate. Agar kabel UTP aman dari gangguan cuaca, teknik yang paling mudah adalah dengan memasukan kabel UTP tersebut kedalam pipa pralon dan menyalurkannya di badan got / gorong-gorong di sebuah kompleks perumahan. Jarak tempuh kabel UTP terbatas sekitar 100 meter saja, oleh karena-nya setiap 100 meter harus di pasang hub yang juga berfungsi sebagai repeater kabel jaringan.
Alternatif lain yang dapat digunakan di sebuah RT/RW-net adalah dengan membangun sebuah Access Point 2.4GHz dan men-share akses Internet unlimited tersebut dengan tetangga dalam jarak 1-3 km dari rumah kita. Ketinggian tower sekitar 5 meter di atas atap lebih dari cukup keperluan mencakup 1-3 km. Teknik memberikan akses Internet menggunakan peralatan 2.4 GHz
Pertanyaan yang akan menjadi momok bagi para penyelenggara RT/RW-net adalah masalah ijin dari RT/RW-net. Jawaban singkat-nya – peraturan di Indonesia belum tahu apa itu RT/RW-net, bahkan WARNET-pun belum ada perangkat hukumnya.
Kalau kita mengacu pada UU 36/1999 akan lebih parah lagi. Di UU 36/1999 tidak ada sama sekali di bahas tentang Internet. Tapi mengacu pada KEPMEN 21/2001 tentang jasa telekomunikasi pasal 46 (1), dan pasal 47 (2), akan terbaca jelas bahwa Small Office Home Office (SOHO) tidak memerlukan ijin dari regulator / POSTEL. Hanya saja di situ tidak di bahas sama sekali kalau jaringan tersebut merupakan jaringan dari Small Office Home Office (SOHO-Net) atau RT/RW-net.
Beberapa Peralatan WiFi Untuk RT/RW-Net
beberapa peralatan yang perlu di siapkan untuk membangun jaringan RT/RW-net menggunakan WiFi (Wireless LAN). Pada dasarnya kita membutuhkan beberapa peralatan,
sbb :
- Sebuah PC yang akan difungsikan sebagai router / gateway.
- Card Wireless LAN (WiFi)
- Kabel coax
- Antenna luar
- Swicth Hub untuk LAN
Sistem operasi apa yang akan digunakan pada PC yang bertindak sebagai router / gateway biasanya menggunakan system operasi Linux, terutama Linux Mandrake/Mandriva karena sangat mudah digunakan dan di install. Perlu di catat bahwa tidak semua card Wireless LAN (WiFi) dapat digunakan untuk komunikasi jarak jauh diluar ruangan (outdoor). Bahkan sebetulnya, semua vendor wireless LAN awalnya memang merancang card WiFi tersebut untuk aplikasi dalam ruangan (indoor). Untungnya ada beberapa tipe & versi card wireless LAN (WiFi) yang dapat digunakan untuk keperluan komunikasi jarak jauh, biasanya card jenis ini di rancang untuk di sambungkan ke antenna luar.
Tampak pada gambar adalah contoh sebuah PCI Wireless LAN card. Card ini mempunyai konektor SMA untuk di sambungkan ke antenna luar.

Salah satu card favorit di awal operasi peralatan WiFi adalah jenis card WLAN PCMCIA atau yang kompatibel-nya. Driver maupun berbagai aplikasi untuk card jenis ini sangat banyak & cukup mudah di peroleh. Karena jenis card ini merupakan PCMCIA, maka dibutuhkan adapter PCI jika ingin digunakan di komputer desktop PC biasa. Salah satu kesulitan utama untuk menggunakan jenis card WLAN atau kompatibel-nya adalah menyambungkan ke antenna external. Jika kita perhatikan baik-baik di ujung card tersebut adalah sebuah lubang kecil untuk di sambungkan ke antenna luar. Sialnya, konektor sekecil itu cukup menyulitkan untuk seorang teknisi biasa untuk membuatnya. Tentunya kita dapat membelinya seharga US$50-70 / buah.

Dalam mengimplementasikan jaringan wireless LAN. Total biaya dapat di tekan menjadi rendah jika kita menggunakan USB Wireless LAN daripada card PCI atau PCMCIA. Yang perlu kita sediakan adalah kabel USB yang cukup panjang yang dibuat tahan terhadap cuaca.
Untuk membuat sinyal dari card USB menjadi jauh, biasanya di pasangkan reflector dari antenna parabola di muka card USB tersebut. Mungkin antenna parabola kecil bekas kabel TV, seperti IndoVision, cukup & lumayan untuk digunakan sebagai reflector untuk jarak beberapa kilometer.
RT/RW-net sebetulnya produk hasil jerih payah banyak rakyat di Indonesia yang mendambakan Internet murah. Dari sisi kebijakan RT/RW-net memperlihatkan sebuah fenomena ketidak adaan ruang legal bagi infrastruktur berbasis komunitas, yang di bangun dengan peralatan buatan sendiri, dari rakyat, oleh rakyat, oleh rakyat. Tidak ada ruang legal bagi infrastruktur Wireless Internet menggunakan WiFi.
Adanya peralatan teknologi informasi yang mutakhir tidak cukup. Keberhasilan RT/RW-net di Indonesia terjadi karena adanya proses pemandaian masyarakat tentang alternatif teknologi Internet yang murah. Belakangan hari, teknologi Wireless Internet tampaknya menjadi tulang punggung RT/RW-net di Indonesia. Bagaimana mewujudkan jaringan RT-RW-Net dengan menggunakan perangkat yang murah meriah dan bisa bertahan dalam waktu yang lama ? Pertanyaan ini merupakan tantangan bagi kita semua.
Untuk menyambung ke ISP, penyedia jasa Internet, kita punya beberapa pilihan, misalnya kita bisa menggunakan modem ADSL dengan biaya sekitar 3 juta per bulan, atau bisa menggunakan teknologi wireless yang lebih murah karena tidak perlu membayar langganan pemakaian sirkuit dari PT Telkom.
Jika menggunakan ADSL, kita harus memeriksa kemungkinan pemasangan jaringan ADSL ke Telkom, kemudian membeli modem ADSL dan setelah selesai memasang modem kita bisa mulai membangun RT-RW-Net untuk disambung ke tetangga. Teknologi ADSL memungkinkan kita tetap menggunakan saluran telepon atau menelpon pada saat kita sedang mengakses Internet.
Investasi untuk membangun titik utama dengan menggunakan ADSL adalah sebagai berikut :
1. Modem ADSL, harganya bervariasi, sekitar - Rp 2.200.000,-
2. Biaya pasang PT Telkom - Rp 500.000,-
3. Registrasi ke ISP - Rp 1.500.000,-
Jadi biaya awal pemasangan ADSL sekitar Rp 4.200.000,- dimana kita harus menambahkan biaya pembangunan jaringan yang akan dijelaskan di bagian lain.
Biaya bulanan menggunakan ADSL (sebagai contoh ADSL Indonet yang bisa didapatkan melalui BoNet di Bogor) adalah Rp 3.520.000,- dan jumlah ini bisa dibagi untuk beberapa tetangga yang menggunakan jaringan ini, sudah tentu dengan kecepatan yang terbatas, hanya 32Kbps untuk akses keluar dan 512Kbps untuk masuk ke jaringan kita. Jika kita dapat mengumpulkan 6 orang tetangga dekat, maka biaya bulanannya menjadi hanya sekitar Rp 600.000,- saja.
Pilihan lainnya yaitu dengan menggunakan teknologi wireless LAN yang mengikuti standar IEEE, yaitu organisasi insinyur di seluruh dunia yang membuat berbagai standar teknis. Standar yang dikenal dengan sebutan 802.11b ini memungkinkan kita untuk menyambung dua tempat yang jaraknya sekitar 8 km dengan menggunakan udara sebagai media distribusi sinyalnya.
Kelemahan sistem ini adalah sering terjadinya interferensi antara perangkat yang sama, karena semua orang bisa membeli dan memasang dengan mudah perangkat ini. Rincian biayanya adalah sebagai berikut :
1. Dua buah perangkat 802.11b yang dilengkapi dengan anti petir, pig tail – Rp 7.500.000,-
2. Pembangunan tower jika memang dibutuhkan, biasanya sekitar Rp 5.000.000,-
Biaya ini bisa ditekan lagi jika dalam arah yang sama kita menggunakan satu radio di base station-nya, dalam hal ini biaya total yang Rp 12.500.000,- bisa menjadi Rp 8.750.000,-
Biaya bulanan menggunakan layanan wireless LAN ini bervariasi, paling murah sekitar Rp 2.000.000,- per bulan, sehingga kalau dibagi dengan 6 tetangga, setiap rumahnya hanya membayar sekitar Rp 350.000,-
Setelah sambungan Internet masuk ke satu rumah, langkah selanjutnya adalah membangun infrastruktur ke tetangga, dalam bentuk kabel UTP (Unshielded Twisted Pair, kabel yang berisi 8 buah dan dipakai untuk jaringan komputer/LAN) yang bisa dipasang dalam jarak maksimum 100 meter. Untuk menghindari panas, hujan atau tikus, sebaiknya kabel ini dimasukan ke pipa paralon yang dipasang dari rumah ke rumah, sehingga bisa lebih tahan lama.
Sinyal yang dari ISP atau Telkom biasanya dalam bentuk konektor RJ-45 UTP (keluar dari modem ADSL atau perangkat wireless LAN), dari konektor ini kita harus membeli satu perangkat yang disebut hub atau switch, yang gunanya mendistribusikan sinyal Internet ke semua tempat. Perbedaan hub dan switch adalah di teknologinya, sebaiknya menggunakan switch, walaupun harganya sedikit lebih mahal, karena kecepatan aksesnya lebih cepat dibanding hub.
Switch yang kita pakai terdiri dari 8 port, artinya kita bisa menyambung delapan perangkat ke dalam switch ini, maksimal bisa menyambung 6 rumah ke dalam satu switch, sementara dua port yang masih kosong kita sambung ke perangkat akses seperti modem ADSL atau wireless LAN, dan yang satunya untuk kita sambung ke switch lain jika ada tambahan tetangga yang mau ikut dalam jaringan RT-RW-Net yang kita buat.
Untuk sambungan dari rumah ke rumah, sebaiknya dipasang diluar rumah dekat jalan, tetapi jangan digantung diatas, karena mengganggu pemandangan, disamping dilarang oleh PLN dan Telkom. Tempat yang paling sesuai adalah pinggir got yang ada di depan rumah.
Perkiraan biaya untuk pembangunan jaringan ke tetangga adalah sebagai berikut :
1. Switch atau hub – Rp 500.000,-
2. Kabel UTP 1.000 ft (333 meter) – Rp 500.000,-
3. Konektor dan pipa paralon untuk 6 rumah – Rp 1.200.000,-
4. Biaya pasang untuk 6 rumah – Rp 900.000,-
Jumlah biaya penyambungan ke rumah-rumah adalah Rp 3.100.000,- yang jika kita jumlahkan dengan biaya akses ke ISP atau ke ADSL menjadi sekitar 8 juta untuk ADSL dan 15 juta untuk wireless LAN. Biaya ini dibagi rata ke setiap rumah yang akan ikutan untuk masuk ke jaringan RT-RW-Net, maksimal sekitar 2,5 juta Rupiah untuk setiap rumah.
Memang kedengarannya masih menakutkan, karena masih berbunyi jutaan, tetapi sekali kita berinvestasi selanjutnya kita bisa memanfaatkan sarana untuk bisa bersaing dalam era globalisasi ini.

1 komentar:
nice info.. :D
salam kenal..
Posting Komentar